Kaca dikamar mandiku buram, hasil dari percikan air. Ku bersihkan agar aku bisa bercermin. Baru ku usap sekali, terlihat jelas wajahku. Aku melihat diriku. Kuperhatikan banyak sekali perubahan di wajahku.
Dahiku berkerut, teringat dahi ini selalu kugunakan untuk berfikir
Kumis dan jenggot sudah tumbuh, hormon ini sudah meluap luap yang menghasilkan rambut rambut
Pipiku dulu berisi, sekarang terlihat jelas tulang pipiku, aku tahu aku bukan sedang berada dalam zona nyaman
Bisakah kusebut diriku dewasa? Atau aku hanya sekedar balita yang cukup umur?
Ku ingat umurku sudah menapaki kepala ‘dua’ perjalananku sudah berada di titik awal pendakian.
Ya Tuhanku,
Kokohkanlah kakikku. Agar aku mampu menempuh jalan yang sulit dan tidak lelah menempuh jlan yang panjang
Lebarkanlah pundakku agar aku mampu memikul cobaan yang berat
Kuatkanlah lenganku agar aku mampu meraih cita - cita yang tinggi
Bersihkanlah telingakuku agar aku selalu peka akan mendengar
Bukakanlah mataku agar aku selalu sadar akan setiap kejadian
Peliharalah bibirku agar aku selalu menyampaikan kejujuran
Dinginkanlah pikiranku agar aku selalu berpikir jernih dan tidak angkuh
Lapangkanlah hatiku agar aku selalu tabah
Dan mantapkanlah tekadku agar aku selalu tangguh
Semoga saja aku menjadi pribadi yg baik kelak untuk keluargaku, istriku, putra putriku dan lingkungan sekitarku. Amin….
dikendali permainan, namun salim, sendirian, penetrasi bung, WOOOO salim SALIIIIIIMMMMMM CAP JAGUUUUUUNG
saya hanya bisa mengatakan 1 kalimat, itulah seorang salim
benar-benar indah bung, benar benar lahir lewat, naluri yang instingtif bagi salim BUNG
dengan 1 sentuhan dengan gaya BENAR BENAR DINGIN BUNG
kita lihat bung, tenang….. COOL sekali bung
menempatkan bola di tiang jauh, dan itu, beberapa detik sebelumnya, salim, melakukan, mengiris bola, sendirian dari lini tengah bung
indah indah sajalah, incredible bung
Engkau yang sedang tersesat dalam cinta, cobalah kau jawab tanyaku ini …
Jika yang kau genggam itu berduri dan menyengat, mengapakah engkau masih bertahan menggenggamnya?
Jika kau yakini jodohmu itu ada di tangan Tuhan, mengapakah engkau tak membebaskan tanganmu untuk mengambil belahan jiwamu itu dari tangan Tuhan?
Kecerdasan apakah yang sedang kau gunakan, untuk membiarkan tanganmu terluka oleh duri yang sesungguhnya bisa kau buang itu?
Tegaslah.
“Hati yang sedang sibuk mengemis cinta palsu, tak dapat menerima cinta yang sejati dan setia.”
Itulah mengapa saya naik gunung, terlalu banyak alasan untuk mengungkapkan keindahannya
Hidup ibarat mendaki gunung, kadang kita berada di atas, kadang kita berada di bawah, majulah terus agar mengerti dinamika kehidupan
Hidup ibarat mendaki gunung, puncak bukan milik satu orang, setiap orang dapat mendaki puncak silih berganti, kesuksesan dalam hidup bukan milik satu orang, tapi milik semua orang
Hidup ibarat mendaki gunung, puncak tidak membutuhkan orang yang putus asa dan kecewa, kesuksesan hanya akan diraih oleh orang yang gigih dan bahagia
Hidup ibarat mendaki gunung, bila tiba di puncak lihatlah ke bawah sejenak, lihatlah ke bawah sekali kali, maka kamu akan tahu siapa saja orang-orang di balik kesuksesanmu
Hidup ibarat mendaki gunung, semua ada prosesnya, semua ada jalannya, semua ada pilihannya, maka nikmati semua proses, jalan dan pilihanmu kalau bukan kamu yang menikmatinya lalu siapa lagi?